Kutukan Empu Gandring Hanya Omong Kosong?

Keris Empu Gandring. Ini adalah senjata paling legendaris sepanjang sejarah Nusantara. Tidak lain karena riwayatnya yang juga melegenda. Kisah awal berdirinya Kerajaan Singhasari yang diwarnai pengkhianatan, skandal asmara, dan mistis; sukses mengabadikan diri di tengah masyarakat, khususnya masyarakat Jawa, sebagai legenda nomor satu.

Sekedar mengingatkan. Kisah Empu Gandring diawali dengan Ken Arok, seorang yang berambisi untuk menjadi penguasa Tumapel (bawahan Kerajaan Kediri) yang saat itu diduduki Tunggul Ametung. Bukan hanya jabatannya, Ken Arok juga mengincar Ken Dedes, istri Tunggul Ametung. Tidak mudah bagi Ken Arok untuk meraih impiannya, mengingat kesaktian Tunggul Ametung. Ken Arok pun meminta bantuan kepada Empu Gandring untuk membuat satu keris sakti mandraguna (yang konon bahannya adalah dari logam meteorit), dalam waktu satu malam. Ketika Ken Arok kembali datang untuk mengambil keris pesanannya, ternyata sarung keris itu belum selesai dibuat. Ken Arok pun murka. Keris yang baru jadi itu ditikamkannya ke si pembuat, Empu Gandring. Sebelum menemui ajal, sang Empu sempat mengeluarkan kutukan: kelak keris itu akan memakan tujuh korban keturunan Ken Arok.

Dengan keris itu, Ken Arok pun berhasil membunuh Tunggul Ametung, memperistri Ken Dedes, dan menjadi penguasa Tumapel. Bukan itu saja, Ken Arok juga berhasil menaklukkan Kediri dan mendirikan Kerajaan Singhasari.

Kisah lengkap Ken Arok tidak akan diceritakan di sini. Saya hanya akan fokus pada korban-korban Keris Empu Gandring, sesuai dengan judul artikel ini. Empu Gandring mengucap kutukan, tujuh turunan Ken Arok akan menjadi korban keris yang dibuatnya. Apakah kutukan itu benar-benar terjadi? Berikut adalah korban-korban Keris Empu Gandring.

  1. Empu Gandring, si pembuat keris. Jelas bukan keturunan Ken Arok.
  2. Tunggul Ametung. Juga bukan keturunan Ken Arok.
  3. Kebo Ijo, teman Ken Arok yang difitnah sebagai pembunuh Tunggul Ametung, dibunuh oleh Ken Arok sendiri. Dia juga bukan keturunan Ken Arok.
  4. Ken Arok, dibunuh oleh Ki Pengalasan, suruhan Anusapati (anak Tunggul Ametung). Tidak ada orang yang merupakan keturunan dari dirinya sendiri, bukan?
  5. Ki Pengalasan, dibunuh oleh Anusapati untuk menghilangkan jejak. Tentu, Ki Pengalasan bukan keturunan Ken Arok.
  6. Anusapati, dibunuh oleh Toh Jaya, anak Ken Arok. Anusapati adalah anak Ken Dedes dari Tunggul Ametung, jadi bukan keturunan Ken Arok.

Kita lihat. Jika kutukan Empu Gandring maka keris itu akan memakan korban tujuh keturunan Ken Arok, tapi yang terjadi keris itu hanya memakan enam korban, dan kesemuanya bukanlah keturunan Ken Arok. Jadi, masih percaya dengan kutukan itu?

Terlepas dari itu semua, kisah Keris Empu Gandring sangatlah keren. Sejarah tidak bisa diubah. Tunggul Ametung, Ken Arok, Anusapati, dan seterusnya… Itu sudah tertulis dalam sejarah. Jika kisah yang kita terima dari leluhur ini benar-benar sesuai dengan sejarah, maka kutukan itu mungkin adalah bumbu cerita yang muncul dari penutur ke penutur berikutnya. Sebaliknya, jika kisah ini adalah murni fiksi, maka kita bisa sedikit ‘memperbaikinya’. Misalnya kita anggap saja keris itu akan memakan tujuh korban, tanpa kata-kata “turunan Ken Arok”; lalu kita tinggal ‘memilih korban’ yang lain, agar pas tujuh orang. Akhirnya, saya persilakan pembaca untuk menyimpulkan sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Live Chat

Join the Live Chat