Deja Vu: Pengertian, Jenis, dan Teorinya

Pernahkah anda pergi ke suatu tempat dan anda merasa seolah pernah berada di situ sebelumnya di dalam mimpi? Jika iya, berarti anda mengalami deja vu.

Deja vu berasal dari Bahasa Prancis yang berarti “pernah melihat”. Ya, deja vu adalah keadaan di mana seseorang merasa seolah pernah mengalami kejadian yang sedang dialami saat ini. Kejadian yang ‘pernah dialami’ itu bisa jadi memang pernah dialami, hanya dalam mimpi, atau hanya terlintas di pikiran saja. Saya sendiri sering mengalami, ketika berada di suatu tempat yang baru saya kunjungi, saya merasa saya pernah melihatnya dalam mimpi. Ada banyak jenis deja vu. Bisa dalam bentuk kejadian, tempat, suara, bau, dan sebagainya. Dari berbagai sumber yang saya baca, ternyata ada banyak jenis deja vu. Bukan hanya penglihatan, perasaan deja vu juga terjadi pada suara atau bau.

Berikut adalah jenis-jenis deja vu yang saya kumpulkan dari berbagai sumber:

  1. Deja Vu, ini adalah deja vu yang umum terjadi. Seseorang merasa mengalami sesuatu yang pernah dialami sebelumnya.
  2. Deja Vecu, hampir sama dengan deja vu, hanya saja perasaan itu lebih kuat dan lebih detail.
  3. Deja Senti, adalah perasaan pernah melakukan sesuatu dan kemudian ingat bahwa dia tidak pernah melakukan itu.
  4. Jamais Vu, adalah kebalikan dari deja vu, yaitu pernah melakukan atau mengalami sesuatu tetapi tidak bisa mengingatnya sama sekali.
  5. Daja Visite, yaitu sesuai dengan namanya, perasaan pernah mengunjungi atau berada di suatu tempat yang sesungguhnya belum pernah dia datangi.

Mengapa terjadi deja vu?

Ada beberapa teori yang menjelaskan tentang penyebab terjadinya deja vu.

  1. Dejavu dapat terjadi karena setiap kita melakukan sesuatu maka otak akan menerima gelombang yang sudah diterjemahkan kedalam impuls listrik, karena kualitas otak dari manusia berbeda-beda, kadang otak memberikan reaksi yang tidak wajar dari impuls listrik tersebut, dan hal itulah yang dapat menyebabkan terjadinya dejavu.
  2. Deja vu disebabkan karena adanya perbedaan waktu (adanya jeda) otak ketika menangkap penglihatan antara mata kanan dan mata kiri (yang seharusnya bersamaan). Misalnya otak lebih dulu menerjemahkan pengllihatan dari mata kanan, maka ketika otak menerima penglihatan dari mata kiri akan diterjemahkan sebagai sesuatu yang sudah pernah dialami. Teori ini terpatahkan karena ternyata deja vu juga terjadi pada orang buta.
  3. Deja vu disebabkan oleh obat-obatan seperti amantadine dan phenylpropanolamine. Beberapa obat-obatan bisa menyebabkan aksi hyperdopaminergic pada area mesial temporal otak yang menyebabkan Deja vu.
  4. Penyakit pada sistem saraf yang dapat menyebabkan terjadinya deja vu adalah epilepsi dan  schizophrenia dan stress yang berlebih. Deja vu terjadi karena kerusakan lobus temporal bagian depan yang membuat penderita memiliki persepsi terhadap sesuatu itu telah terjadi telah mereka ketahui lebih awal.
  5. Deja vu terjadi berkaitan dengan hal mistis atau religius. Jika ini yang terjadi, maka tidak perlu dijelaskan di sini.

Kita lihat, dari kelima poin di atas, nomor 1 sampai 4 menjelaskan bahwa deja vu terjadi karena adanya ketidakberesan pada otak atau saraf. Sedangkan faktanya, 70 persen dari manusia penghuni bumi ini pernah mengalami deja vu. Apakah mungkin 70 persen dari kita semua otak/sarafnya tidak beres dan hanya 30 persen yang benar-benar waras? 😀 Kalau tidak, berarti teori yang mungkin benar adalah nomor 5, atau ada teori yang lain. Biarlah para ilmuwan itu yang meneliti, atau mungkin anda punya teori tersendiri?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Live Chat

Join the Live Chat