Lirik Lagu, Antara Idealisme dan Komersialisme

Sebagai salah satu komponen dalam sebuah lagu, peran lirik sangatlah penting dalam menyampaikan pesan si pembuatnya. Bisa atau tidaknya seseorang menghayati suatu lagu, syarat pertamanya adalah isi liriknya. Isi hati, keadaan sosial, bahkan suasana politik bisa diekspresikan dalam bentuk lirik lagu. Itu sebabnya seorang pencipta lagu selain merangkai nada menjadi lantunan yang asyik didendangkan juga menyusun kata-kata sedemikian rupa sehingga terasa indah dan yang lebih penting, pesannya tersampaikan. Apakah selalu tersampaikan? Tidak selalu sih. Penyampaian pesan ini tidak selalu dalam bentuk vulgar atau puitis, tetapi juga dalam bentuk tersirat yang bahkan tidak bisa dimengerti oleh siapapun kecuali penulisnya sendiri.

Tetapi jika kita perhatikan lagu-lagu yang beredar pada era sekarang…. Bagaimana pendapat anda tentang lirik-liriknya? Saya tidak menyebutkan contoh atau menilai satu persatu, tetapi berbicara secara umum. Mendengarkan lirik-lirik lagu era sekarang pasti tidak senikmat mendengarkan lirik lagu tahun ’90-an, ’80-an, dan masa sebelumnya. Mendengar lagu masa-masa itu seperti mendengarkan puisi atau karya sastra tinggi, sedangkan lirik lagu zaman sekarang seperti membaca cerita deskripsi yang secara gamblang menjelaskan isinya tanpa gaya bahasa yang menarik.

Lalu apa hak saya untuk protes? Tidak ada. Justru saya menghormati mereka yang sudah bisa membuat lagu yang mana orang-orang bisa ikut menyanyikan, sedangkan saya sejauh ini hanya bisa mengarang lagu sendiri untuk dinyanyikan sendiri 😀

Menciptakan lagu, khususnya menulis lirik, selain hak para musisi itu sendiri, adalah hak masyarakat pendengar untuk memilih lagu dengan lirik mana yang enak dan pantas didengar dan dinyanyikan oleh mereka. Untuk apa seseorang menulis lagu dengan lirik yang luar biasa puitis dan sarat makna tapi tidak ada yang mau mendengarkan? Dalam hal ini biasanya para produser musik mengambil peran untuk menentukan jenis musik dan lirik yang harus ditulis dalam sebuah lagu. Tentu saja, tujuan utama para produser adalah komersialitas. Saya tidak menjustifikasi semua produser, seperti halnya saya tidak menghakimi semua musisi, tetapi saya berbicara secara umum. Bahkan, saya kesulitan untuk mencari musisi yang tidak mengutamakan komersialitas. (Memangnya ada ya?)

Sekarang kita lihat bagaimana seorang/sekelompok musisi sebenarnya juga punya idealisme. Untuk melihatnya tidaklah sulit. Misalnya ada satu grup band yang sudah mengeluarkan empat album. Coba anda perhatikan lagu-lagu di setiap albumnya. Misalnya pada album pertama lirik lagunya kebanyakan menceritakan tentang masa muda atau rasa cinta tanah air, sedang pada album kedua dan setelahnya hanya mengisahkan soal cinta, cinta, dan cinta…. Maka sudah bisa ditebak, mereka menyingkirkan idealisme setelah album pertama karena lagu-lagu dengan lirik penuh idealisme di album pertamanya ternyata tidak laku di pasaran. Sebaliknya, ada musisi yang dengan berani melakukan hal yang bertentangan. Ketika awal muncul mereka membawakan lagu dengan lirik-lirik yang mudah akrab tanpa mempedulikan idealisme, namun ketika mereka sudah memiliki nama, keberanian mulai muncul. Idealisme yang terpendam selama ini akhirnya memberontak dan mereka pun mulai membawakan lagu-lagu yang berisi.

Lalu apa sebabnya para penikmat musik era sekarang lebih menyukai lirik yang langsung-langsung saja tanpa ada gaya bahasa? Mungkin karena zaman sudah berubah. Pola pikir dan gaya hidup pun berubah. Jika dulu seorang tamu yang disuguhi kopi akan mengatakan “tidak usah repot-repot”, maka sekarang seorang tamu yang baru datang akan mengatakan “kopinya mana?”. Intinya era sekarang adalah era yang ‘langsung’ tanpa ada basa-basi.

Apapun alasan dan keadaannya, sebagai penikmat musik saya tetap menginginkan lagu-lagu dengan lirik yang puitis. Jika gaya sastra era sekarang sudah berbeda dengan dua puluh atau tiga puluh tahun yang lalu, maka hadirkanlah wahai para musisi, lirik-lirik lagu dengan sastra era sekarang itu. Mungkin akan ada yang bilang, “Ya beginilah sastra masa kini!” Jika memang begitu, sungguh kalah jauh dengan sastra masa dulu. Mungkin ada lagi yang akan bilang, “Sastra lama dan baru itu tidak bisa dibandingkan, karena memang standarnya berbeda.” Nah, kalau yang ini mungkin akan saya bahas lain waktu dalam artikel tersendiri……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Live Chat

Join the Live Chat