Ketika Dongeng dan Legenda Merusak Sejarah

Membaca atau mendengarkan dongeng adalah hal yang menyenangkan bagi anak kecil. Dengan sebuah dongeng, seorang anak bisa berimajinasi, berkhayal, dan bermimpi seandainya dia menjadi pelaku dalam cerita. Bukan hanya itu saja, dongeng juga mengajarkan kita tentang nilai-nilai sosial; akan sifat baik dan sifat buruk beserta ganjarannya. Dongeng tentang kancil yang mencuri timun misalnnya, dongeng yang sangat terkenal ini mengajarkan anak-anak tentang buruknya perbuatan mencuri. Itu satu contoh sederhana.

Tidak saya pungkiri, saat kecil pun saya sangat menyukai dongeng. Mendiang ayah saya adalah sosok yang selalu setia mendongeng menjelang tidur kami. Berbagai macam cerita, dari yang hanya dongeng sampai yang nyata, dari cerita sejarah sampai pengalaman hidupnya, beliau selalu menceritakannya pada kami anak-anaknya. Sampai saat ini pun saya masih banyak yang ingat dengan dongeng-dongeng itu. Saat ini  tidak dapat lagi saya dengarkan maupun saya baca, karena ayah saya menceritakannya langsung dari isi kepalanya, bukan membacakan buku. Wah, jadi terharu dan sedih kalau ingat masa-masa itu :'( Seiring dengan bertambahnya usia dan kemampuan membaca, saya pun kemudian mulai membaca sendiri dongeng-dongeng atau legenda dari buku atau majalah anak-anak; saya yakin, anda pun tidak jauh berbeda dengan saya, kecuali anak-anak masa kini yang masa kecilnya lebih banyak dihabiskan pada gadget atau perangkat game.

Saat masih kecil, ketika mendengar atau membaca dongeng, otak kita seakan tanpa beban menerimanya, menganggap apa yang tertera dalam suatu dongeng adalah benar-benar terjadi. Nah, semakin dewasa, otak kita tentu semakin dapat memilah-milah dongeng yang pernah kita dengar saat masih kecil. Logika kita semakin berkembang dan kita semakin mampu membedakan mana yang mungkin benar-benar terjadi dan mana yang tidak mungkin terjadi (benar-benar cerita fiksi). Sebagai contoh, jika kita dulu disuguhkkan dengan dongeng tantang Gunung Tangkuban Perahu, kita mungkin akan langsung percaya begitu saja; kita bahkan mendengarkan cerita itu dengan deg-degan. Tapi ketika sudah besar, kita akan menyadari kalau dongeng tentang Tangkuban Perahu itu hanyalah sebuah dongeng, bukan fakta sejarah.

Batu Malin Kundang

Yang jadi masalah adalah ketika seseorang yang ketika sudah besar tetap menganggap bahwa dongeng yang dia dengarkan ketika masih kecil adalah benar-benar kejadian nyata. Saya tidak bercanda, tetapi ini adalah pengalaman pribadi saya, ketika seorang teman yang sudah berusia 23 tahun (sudah dewasa kan?) tetap meyakini bahwa dongeng dan legenda tentang Malin Kundang, Batu Belah, Danau Toba, dan Tangkuban Perahu adalah benar-benar terjadi. Dan saya tidak menyalahkan teman saya itu, karena nyatanya dia bukanlah satu-satunya yang meyakini hal itu.

Cara berpikir dan logika seseorang tidaklah sama. Ini sama halnya dengan ketika ada satu hoax disebar, mungkin hanya 10 persen yang tidak mempercayainya, sedang sisanya tanpa ragu meyakini dan bahkan ikut menyebarkannya. Dalam hal ini, kita sangat ingin menyalahkan orang yang langsung percaya dengan hoax tanpa menelitinya terlebih dahulu, tapi bagaimana jadinya ketika orang-orang yang salah itu mencapai 90 persen? Caranya adalah dengan menghentikan munculnya hoax itu.

Kembali ke dongeng dan legenda. Ketika banyak orang menganggap bahwa dongeng dan legenda adalah suatu hal yang nyata, bagaimana cara mengatasinya? Apakah dengan menghapus dongeng-dongeng dan legenda yang tentu saja itu adalah kekayaan budaya kita? Sangat disayangkan kalau hal itu dilakukan. Mungkin yang perlu dilakukan hanyalah memberikan pemahaman kepada anak-anak ketika cara berpikir mereka mulai berkembang. Tanamkan pada mereka bahwa dongeng-dongeng yang mereka dengar selama ini hanyalah cerita fiktif. Tapi dalam prakteknya mungkin ini akan sulit, dan jujur saja saya sendiri bingung dengan hal ini…

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Live Chat

Join the Live Chat