Lagu Daerah, ‘Katrok’ Tapi Penuh Makna

Setelah sebelumnya saya menulis Lirik Lagu, Antara Idealisme dan Komersialisme,  kini saya akan coret-coret sedikit tentang lirik-lirik lagu zaman dulu. Berbicara tentang lagu-lagu zaman dulu, tentu yang kita maksud adalah lagu-lagu daerah, karena pada masa itu belum ada lagu yang bersifat nasional.

Seperti kita ketahui, bangsa kita yang terdiri dari banyak suku ini memiliki kebudayaan masing-masing yang berbeda satu dengan lainnya. Tidak hanya pakaian, rumah, dan tari-tarian; tapi juga dalam urusan musik. Setiap daerah memiliki alat-alat musik tersendiri, dan tentu saja lagu khas yang diturunkan sejak zaman nenek moyang kita hingga hari ini masih kita nyanyikan. Dari lagu Bungong Jeumpa di Aceh hingga lagu Apuse di Papua, semua adalah kekayaan Bangsa Indonesia yang patut kita banggakan.

Mengapa harus kita banggakan? Pertanyaan ini terdengar mudah, tapi apa kita bisa menjawab? Saya sendiri cukup tergelitik dengan pertanyaan yang saya lontarkan sendiri ini. Mengapa kita bangga? Apa hanya karena lagu-lagu itu adalah karya nenek moyang kita, maka kita berkewajiban untuk membanggakan hal ini? Jika kita merasa itu hanya kewajiban, maka sama saja kita buta. Jika ada istilah cinta buta, kita bahkan tidak layak untuk menyandangnya. Cinta buta pun tidak terpaksa untuk mencintai, namun cinta karena kewajiban? Itu berarti benar-benar buta.

Saya tidak akan berteka-teki. Sesuai dengan judul artikel ini, jika anda belum menemukan jawaban mengapa kita harus bangga dengan lagu-lagu daerah, maka salah satu jawabannya adalah: lagu daerah sarat akan makna, yang tidak bisa kita dapatkan dari lagu-lagu era sekarang; selain itu lagu daerah sangatlah mudah untuk didengarkan dan dinyanyikan oleh semua golongan, dari anak-anak sampai kakek nenek. Nah, di sini kita sedang membahas alasan yang pertama: lagu daerah sarat akan makna.

Jika mendengar suatu lagu daerah dinyanyikan, mungkin kesanya kuno dan tidak gaul. Namun kita harus ingat, nenek moyang kita menciptakan lagu itu pasti ada alasannya. Tidak seperti pencipta lagu era sekarang yang hampir semua dipengaruhi komersialitas, lagu-lagu zaman dahulu biasanya berisi tentang ajaran atau nasehat-nasehat, baik sosial maupun yang religius.

Sebagai salah satu contoh, lagu Gundul Gundul Pacul yang liriknya begitu singkat dan sederhana, ternyata memiliki makna yang begitu dalam, bahkan seorang Presiden pun harus memperhatikan makna lagu ini jika ingin kepemimpinanya sukses. Ya, lagu ini bercerita tentang sosok pemimpin yang lalai dengan kepemimpinannya. Pesan moralnya adalah, seorang yang diberi amanat untuk memimpin (nyunggi wakul) tidak boleh terlena dengan kepemimpinannya (gempelengan), karena akan berakibat pada kehancuran (wakul ngglempang, segane dadi sak ratan).

Sunan Kalijaga

Contoh lainnya adalah lagu Lir Ilir yang sebagaimana lagu Gundul Gundul Pacul, dipercaya merupakan ciptaan Sunan Kalijaga. Lagu Lir Ilir adalah lagu dengan makna yang membuat saya terkagum-kagum. Misalnya saja pada kalimat penekno blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekno (panjat pohon belimbing itu, biar licin tetap panjat) yang berarti ajakan untuk melaksanakan 5 Rukun Islam (buah belimbing memiliki 5 gerigi – ada juga yang mengartikannya sebagai sholat lima waktu). Dan luar biasanya, dari setiap deretan kata memiliki makna yang sarat pesan dan ajaran. Bagi yang belum mengetahui makna lagu ini, silakan lihat selengkapnya di https://id.wikipedia.org/wiki/Lir-ilir.

Dari dua contoh lagu di atas, kita bisa bisa melihat betapa timpangnya perbedaan lagu zaman dulu dengan masa sekarang dalam hal makna. Jadi, banggalah dengan lagu-lagu daerah kita masing-masing, karena sekarang kita tahu alasannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Live Chat

Join the Live Chat