Siapa yang Mau Dipanggil ‘Kentut’?

Apalah arti sebuah nama. Ungkapan itu tidaklah asing di telinga kita. Itu berasal dari kata-kata yang pertama kali diucapkan Shakespeare: What’s in a name? Ungkapan ini dimaknai bahwa sebuah nama tidaklah berarti apa-apa, tapi yang penting adalah siapa/apa orang/bendanya. Ya, sekilas ungkapan ini memang terkesan benar dan banyak orang mengutip kata-kata ini jika membahas tentang nama.

Kata-kata Shakespeare itu sebenarnya masih ada lanjutannya, selengkapnya begini “What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.” Memang, apapun nama yang kita berikan pada bunga mawar, itu tidak akan mengubah baunya, bunga itu tetap saja harum. Tapi tidak semua hal yang berkaitan dengan nama akan sesederhana itu. Pada kalimat what’s in a name? Shakespeare menyebut name yang tentu saja berlaku untuk semua nama secara umum, sedangkan di kalimat berikutnya dia mewakilkan semua nama itu dengan nama bunga. Di sini saya tidak setuju jika semua nama bisa digeneralisasi maknanya sesederhana nama bunga.

Ungkapan apalah arti sebuah nama akan sangat tepat dan benar jika dilihat dalam satu sisi, yaitu sisi hakikat dari benda/orang yang punya nama. Hal yang paling umum, tentunya nama orang. Siapapun nama orangnya, tidak akan menunjukkan bagaimana sifat, sikap, tabiat, bakat, kemampuan, prestasi, dan apapun itu. Sebuah band yang bernama Gelas Band tidak akan menjamin kemampuan dan prestasinya lebih baik dari band bernama Piring Band. Orang atau band, ketika berganti nama, tidak akan mengubah kemampuannya. Seorang bernama Evan Dimas yang berganti nama menjadi Lionel Messi tidak serta merta mengubah kemampuannya bermain bola menjadi lebih hebat. Apapun nama yang dia pilih, kemampuannya tetap sama. Contoh lain, ketika menjawab soal Matematika tentang harga sebuah mangga, kita bisa memisalkan harga mangga dengan a, b, c, atau z. Apapun nama permisalannya tidak masalah. Toh hakikatnya tetap adalah harga sebuah mangga.

Namun apakah kita sadar bahwa nama itu sangat mempengaruhi hakikat orang/benda yang menyandang nama itu? Kita ambil contoh sederhana, ada dua orang anak, seorang mempunyai nama jadul/kuno/ndeso dan seorang lagi mempunyai nama yang keren dan internasionalis. Secara psikologis, anak dengan nama yang keren tentu akan lebih percaya diri dibandingkan yang memiliki nama ndeso. Meskipun sejatinya mereka memiliki kecerdasan dan bakat yang sama, namun kemampuan mereka untuk mengembangkannya tentu berbeda. Nah, hal ini tentu berakibat pada pembentukan dan perkembangan ‘hakikat’ pemilik nama itu, apa ia akan menjadi orang yang berhasil, atau orang yang gagal.

Contoh kedua, sebuah band dengan nama yang keren pasti akan lebih mudah meraih kesuksesan dibanding dengan band dengan nama yang tidak senonoh. Memang apapun nama penyanyinya orang-orang hanya akan mendengar lagunya. Tapi nama yang tidak senonoh tentu akan memicu pro dan kontra yang ujung-ujungnya mereka akan dihujat, dan seterusnya. Nama yang tidak senonoh tentu akan sangat mungkin membuat album mereka dilarang beredar bahkan bisa dillarang show/konser. Tidak ada jalan lain jika mereka ingin terus berkarya, mereka harus berganti nama. Setelah berganti nama, mereka menjadi band yang sukses. Dari band yang tanpa prestasi, setelah berganti nama menjadi band yang sukses.

Contoh ketiga, ini bukan tentang hakikat, tapi bagaimana sebuah nama bisa mempermudah/mempersulit jalan hidup seseorang: sebuah soal matematika mengenai harga sebuah mangga. Kita tentu akan lebih mudah mengerjakan soal itu jika mempermisalkan harga sebuah mangga dengan x atau y, daripada mempermisalkannya dengan dhryhjdchfjueyifkhfnk. Ya, kan?

Dalam perkembangan zaman dan teknologi yang terus berubah, nama tidak akan selalu bebas dari masalah. Mendaftar akun tertentu di internat saja, banyak yang mengharuskan pendaftar mencantumkan nama depan dan nama belakang. Faktanya, jutaan orang di Indonesia memiliki nama yang hanya terdiri dari satu kata. Kasihan bukan? Ini sekalian curhat sebenarnya, hehe….

Jadi, masih percaya Shakespeare? Masih berkata apalah arti sebuah nama?? Sekedar mengingatkan, Nabi Muhammad SAW selalu menganjurkan kita untuk memberi nama yang baik pada anak. Tentu saja yang beliau maksud bukan hanya nama anak, tapi nama apapun. Manusia sekelas beliau tentunya tidak akan berkata seperti itu jika nama tak berarti apa-apa. Terserah mau ikut siapa, Shakespeare atau Nabi Muhammad. Yang pasti, anda tidak mau dipanggil Kentut bukan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Live Chat

Join the Live Chat