Mengapa Waktu Terasa Semakin Cepat Berlalu?

Sewaktu kecil dulu, saya merasa waktu sangat lama berjalan. Menunggu satu bulan berlalu saja rasanya lamaaa sekali. Tapi sekarang, tahun ke tahun berganti tanpa terasa berganti begitu saja. Saya yakin bukan hanya saya yang mengalami hal ini, tapi semua orang termasuk pembaca. Mengapa waktu terasa semakin cepat berlalu?

Sebelum membahas apa penyebabnya, kita semua tentu sepakat kalau waktu bukanlah sesuatu yang absolut, tetapi relatif. Tentunya bukan relatif seperti dalam teori relativitas Enstein, tetapi relatif dalam hal perspektif. Dalam teori relativitas, suatu kejadian yang bagi seseorang terjadi selama 1 jam, mungkin bagi orang lain terjadi selama 2 jam. Tetapi relatif yang kita bahas di sini, misalnya saya menunggu kedatangan anda selama 1 jam. Waktu bagi saya yang satu jam adalah sama dengan waktu perjalanan anda yang juga 1 jam. Bagi saya yang merasa bosan menunggu, waktu 1 jam itu sangat lama sedangkan bagi anda yang menikmati perjalanan waktu satu jam itu sebentar saja.

Sekarang kita ke masalah utama, mengapa waktu terasa semakin cepat berlalu?

Dari sudut pandang sains, psikologi, dan bioloogi, hal yang paling mempengaruhi perspektif kita terhadap waktu adalah ritme internal, bertambahnya pengalaman , dan ingatan. Lebih jelasnya, berikut adalah beberapa penjelasan mengapa perspektif setiap orang terhadap waktu berbeda-beda.

Perspektif akan waktu dipengaruhi emosi

Apa yang sedang anda rasakan? Bahagia, tertekan, takut, marah, atau sedih? Emosi yang sedang kita alami memberikan perspektif yang berbeda-beda terhadap waktu. Penelitian menunjukkan bahwa emosi yang bagus (perasaan senang dsb.) secara teoritis akan membuat waktu terasa lebih lama. Tapi entah mengapa saya tidak sepenuhnya setuju. Saya beri contoh, misalnya anda sakit gigi selama satu minggu. Waktu yang sebenarnya hanya tujuh hari itu mungkin terasa sebagai siksaan selama setahun bukan?

Semakin bertambah usia

Semakin bertambahnya usia, mengapa waktu terasa semakin cepat berlalu?  Diperkirakan, hal ini disebabkan karena banyaknya pengetahuan, pengalaman, dan informasi baru yang didapat sewaktu kita masih kecil. Semakin bertambahnya usia, pengetahuan dan pengalaman baru yang kita dapatkan semakin sedikit. Hal ini berakibat pada terasa semakin cepatnya waktu berlalu.

William James, seorang psikolog pada tahun 1890 dalam karya tulisnya Principles of Psychology menyatakan bahwa semakin cepatnya waktu berlalu disebabkan karena semakin sedikitnya kejadian-kejadian mengesankan yang dialami. Satu penelitian menyatakan kalau orang-orang yang berusia 20 tahun lebih akurat dalam memperkirakan waktu dibanding orang-orang yang berusia 70-an tahun.

Kamajuan teknologi mengubah konsep tentang waktu

Penelitian terkini menyebukan bahwa sosial media dan gadget juga ikut andil dalam ‘mencuri’ waktu kita. Kita selalu mengecek berita, pesan yang masuk, dan sering menghabiskan waktu seolah-olah kita sedah tersandera oleh teknologi. Penelitian pada tahun 2013 saja menunjukkan kalau orang-orang mengecek ponselnya kira-kira 150 kali dalam sehari. Bayangkan, betapa banyaknya waktu terbuang karena gadget. Bagaimana cara menangkal hal ini? Tentu saja, sebaiknya kita tak melulu menghabiskan waktu dengan gadget. Sesekali tinggalkan, kalau perlu matikan dan nikmati hidup anda tanpa layar monitor.

Resonansi Schumann

Selain hal-hal di atas, masih ada Teori Resonansi Schumann yang menyatakan bahwa waktu yang kita lewati berkenaan dengan Resonansi Schumann. Semakin tinggi nilai Resonansi Schumann maka waktu akan berjalan semakin cepat. Orang-orang yang mempercayai hal ini umumnya menyebutkan kalau waktu yang saat ini kita jalani sebenarnya hanya dua per tiga dari waktu pada tahun 1950. Jika berdasarkan pada nilai Resonansi Schumann pada tahun 1950 maka saat ini satu hari hanyalah 16 jam. Bagaimana penjelasannya? Mungkin lain kali akan kita bahas dalam artikel tersendiri.

Referensi: http://www.didyouknow.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Live Chat

Join the Live Chat