Masalah adalah Calon Guru yang Terbaik

Mungkin dari dulu kita sering mendengar istilah pengalaman adalah guru yang terbaik. Namun mengapa saya memberi judul artikel ini dengan istilah masalah adalah calon guru yang terbaik? Istilah ini mungkin asing di mata dan telinga anda, namun saya menuliskan ini bukan hanya asal-asalan dan tanpa sebab.

Pengalaman adalah guru yang terbaik, ungkapan ini tidak perlu dibuktikan lagi kebenarannya. Seringkali kita tahu sesuatu yang sebelumnya kita tahu hanya dari pengalaman. Seringkali kita bisa mengerjakan sesuatu setelah keadaan memaksa kita untuk belajar mengerjakannya. Seorang anak yang tadinya tidak bisa memasak dengan segera akan bisa memasak setelah dia tinggal di kost, itu contoh sederhananya. Contoh yang lebih kompleks dan rumit tentu saja pengalaman hidup kita seluruhhnya.

Jika pengalaman adalah guru yang terbaik, lalu bagaimanakah caranya agar kita mendapat guru yang terbaik? Ya tentu saja dengan pengalaman. Namun apakah pengalaman itu selalu datang dengan sendirinya?

Pada dasarnya, semua yang kita lewati dan alami adalah pengalaman. Apapun yang kita alami adalah pengalaman. Kalau begitu, apakah semua yang kita kerjakan adalah pengalaman? Ya, tentu saja. Apakah menonton televisi seharian di rumah juga adalah pengalaman? Ya, tentu saja. Apakah menganggur selama setahun juga adalah pengalaman? Sekali lagi, ya.

Mungkin ada yang menertawakan hal ini. Tapi akan saya jabarkan. Seseorang yang setiap hari kerjanya hanya menonton TV, pengalaman menonton TV-nya tentu lebih banyak dibanding orang yang jarang menonton TV. Dia bisa dipastikan lebih hafal acara-acara TV dibandingkan dengan yang jarang menonton TV. Begitu juga orang yang menganggur, tidak punya pekerjaan selama setahu misalnya. Apa yang dia kerjakan selama menganggur? Kalau selama itu dia kesana kemari mencari pekerjaan, tentu pengalamannya dalam mencari lowongan pekerjaan lebih banyak dibandingkan orang yang sudah mendapat pekerjaan. Jadi, semua hal yang kita alami adalah pengalaman, dan selama kita hidup pengalaman akan terus bertambah.

Lalu pengalaman seperti apa yang seharusnya menjadi guru kita?

Sebelum membicarakan guru, mari kita membahas soal ilmu. Ilmu apa yang kita butuhkan? Ilmu apa yang benar-benar berguna bagi kita? Jika saya membagi tips kepada anda bagaimana cara mengupil yang efektif, apakah anda akan menerima ilmu itu? Jika itu tidak berguna bagi anda, anda pasti akan mengabaikannya. Begitu juga dengan guru, atau dalam hal ini adalah pengalaman. Pengalaman seperti apa yang kita butuhkan? Pengalaman seperti apa yang sepertinya/pastinya akan berguna bagi kita?

Pengalaman adalah hal yang bisa datang tanpa diundang namun bisa juga kita cari dengan sengaja. Orangtua yang menyekolahkan anaknya pasti dengan sadar sengaja menempatkan anaknya di tempat yang akan menambahnya berbagai pengalaman dan pengetahuan yang berguna. Seorang pemuda yang merantau ke negeri seberang mungkin dengan sengaja mencari pengalaman di negeri orang. Seorang atlet pasti akan memperbanyak latihan untuk memperbanyak pengalamannya.

Namun pengalaman juga bisa datang tanpa kita inginkan bahkan tanpa kita bayangkan sama sekali. Seorang yang mengalami kecelakaan misalnya, dari kecelakaan ringan sampai yang berat, itu semua adalah pengalaman.

Lalu bagaimana pengalaman itu menjadi guru?

Pengalaman akan menjadi guru jika pengalaman itu mengajari kita untuk menjadi lebih baik atau mengajari kita untuk mengatasi masalah. Ya, semuanya berawal dari masalah. Tanpa masalah, kita tidak akan mencari tahu bagaimana cara memecahkan masalah. Saat kita tertimpa masalah, saat kita menderita dengan masalah, saat kita mencoba mencari solusi, saat kita memecahkan masalah, saat kita berhasil memecahkan masalah, itu semua adalah pengalaman yang menjelma menjadi guru. Guru yang langsung mengajari praktek, bukan hanya teori.

Mungkin saat anda membaca, pernah suatu ketika buku yang anda baca lepas jilidannya hingga anda repot membacanya. Itu adalah masalah. Lalu anda mencari cara bagaimana cara memperbaiki dan kemudian benar-benar memperbaikinya. Itu adalah guru. Sebelumnya, anda tidak bisa memperbaiki jilidan buku, namun setelah anda mendapatkan masalah sekarang anda mendapat ilmu baru: memperbaiki jilidan buku. Contoh lain, mungkin suatu saat komputer anda rusak dan harus diinstal ulang. Lalu anda pun mulai googling dan belajar untuk menginstalnya sendiri sampai akhirnya berhasil. Itu berarti anda sudah mendapatkan ilmu baru: menginstal komputer. Dua contoh sepele ini tentu saja berlaku dalam hal-hal besar lainnya.

Jika pengalaman berawal dari masalah, lalu apakah semua masalah bisa menjadi pengalaman dan guru bagi kita? Tergantung. Masalah yang datang akan menjadi guru atau akan menjadi sekedar masalah tergantung bagaimana kita menyikapinya. Jika kita menerima masalah tersebut dan belajar bagaimana cara mengatasinya, maka masalah tersebut akan menjadi guru bagi kita; namun jika kita mengabaikan atau malah menyerahkan masalah tersebut ke orang lain, maka masalah itu batal menjadi guru buat kita.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Live Chat

Join the Live Chat